• September 16 2021

Peran Ozon Bagi Kehidupan di Bumi

ozon

Peringatan Hari Ozon Internasional atau International Ozone Day diperingati setiap tanggal 16 September dimana hal ini sesuai dengan tanggal penandatanganan Protokol Montreal, 16 September 1987 sebagai penetapan peringatan untuk selalu mengingatkan kepedulian masyarakat internasional tentang lapisan pelindungi bumi tersebut. Penandatangan perjanjian ini menindaklanjuti persetujuan umum pertama yang diadakan pada tahun 1985. Persetujuan yang dikenal sebagai “Konvensi Vienna untuk Perlindungan Lapisan Ozon” yang merupakan perjanjian untuk melindungi lapisan ozon. Protokol Montreal tersebut ditandatangani oleh 188 negara. Banyak dari kita yang tidak menyadari arti penting dari memperingati hari ozon. Seringkali kita mendengar kata ozon, sebenarnya apa sih ozon itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ozon merupakan lapisan udara yang terdapat di atmosfer berasal dari oksigen yang mengalami perubahan akibat adanya aliran listrik setelah petir dan guruh silih berganti atau karena pengaruh sinar ultraviolet (O3). Nah, ozon ini juga memiliki fungsi yang sangat penting loh, guys! Ozon bekerja untuk menyerap sinar ultraviolet (UV) dan mencegah sinar UV yang berbahaya mengenai permukaan bumi dan merugikan organisme hidup di bumi. Apabila ozon rusak maka radiasi sinar ultraviolet akan masuk ke bumi dengan kuantitas yang lebih banyak. Oleh karena itu, keberadaan ozon dengan perannya merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi kehidupan di bumi terutama penghuninya. Lapisan ozon yang menipis diakibatkan oleh pencemaran udara yang mengandung gas klorofluorokarbon (CFC) dan efek gas rumah kaca yaitu karbondioksida (CO2), dan metana (CH4). Peringatan hari ozon internasional tahun ini menjadikan kita mengingat Kembali dengan nasib bumi kita. Bumi yang semakin hari semakin tua, bukannya kita jaga, malah kita rusak demi kepuasan pribadi dengan adanya kegiatan manusia yang dapat menyebabkan emisi gas rumah kaca, seperti penebangan liar dan pembakaran hutan, penggunaan bahan bakar fosil secara berlebihan, pencemaran laut, industri pertanian, limbah rumah tangga, dan lain sebagainya. Baru-baru ini masyarakat digemparkan dengan berita dari media mengenai salah satu fenomena alam akibat global warming yaitu terjadi hujan lebat di Greenland selama beberapa jam untuk pertama kalinya setelah berjuta-juta tahun. Hal ini merupakan pertanda buruk bahwa bumi telah terancam dari krisis iklim. Dilansir pada nationalgeographic.co.id pada tanggal 23 Agustus 2021, disebutkan bahwa seperti sebagian besar belahan bumi utara,Greenland yang selalu ditutupi dengan es tebal telah mengalami gelombang panas besar dengan suhu di puncak gletser naik di atas titik beku untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari satu dekade. Pada 14 Agustus 2021, di tempat yang biasanya terlalu dingin untuk air jatuh sebagai cairan ini, Stasiun Puncak (Summit Station) milik National Snow and Ice Data Center (NSIDC) mencatat telah terjadinya hujan di sana selama beberapa jam. Lapisan es Greenland menyimpan air tawar yang bisa menyebabkan kenaikan permukaan laut setinggi 6 meter atau 20 kaki. Lapisan es ini juga memiliki pengaruh besar pada cuaca dan iklim. Laporan IPCC baru-baru ini memperingatkan pemanasan yang melebihi 2°C akan memicu runtuhnya lapisan es besar ini. Ini adalah salah satu titik kritis utama yang sangat diperhatikan oleh para ilmuwan. Lalu upaya yang dapat kita lakukan sebagai wujud melindungi bumi dari krisis iklim dapat dimulai dari hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghemat penggunaan energi, meminimalisisasi penggunaan plastik, melakukan 3R (reduce, reuse, recycle), dan lain-lain dengan begitu kita dapat mengurangi jejak karbon (carbon footprint) di bumi.

Berita Lainnya

Press Realese Studi banding LEPPIM UPI Ke UKM Penelitian UNY

Minggu (14/11) keluarga besar UKM Penelitian UNY menyambut hangat studi…

Read More
Secured By miniOrange