• Juni 1 2020

Kontribusi Mahasiswa dalam Memasyarakatkan Pancasila di Era Milenial

Pancasila merupakan idiologi bangsa Indonesia yang harus dijunjung tinggi keberadaannya. Selain merupakan idiologi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila juga merupakan falsafah dan jati diri bangsa Indonesia. Jika bangsa Indonesia memiliki Pancasila sebagai bukti konkret identitas bangsa, maka seharusnya bangsa Indonesia dapat mengimplemetasikan kehadiarannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kenyataannya, Pancasila yang memuat lima sila yang dianggap „sakral‟ telah terkubur secara perlahan dalam kehidupan dan hati nurani bangsa Indonesia. Eksistensi pancasila dalam dunia pendidikan di Indonesia masih dipertanyakan dan diperdebatkan dikalangan masyarakat yang , “kritis” terhadap kehadiran Pancasila.

Namun, akankah  Indonesia lebih baik tanpa Pancasila sebagai idiologi bangsa? Pancasila mempunyai nilai ideal, instrumental dan nilai praksis. Pancasila mempunyai lima nilai pokok. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan tuntunan dan pegangan dalam mengatur sikap dan perilaku manusia Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia yang menjadi sumber moral. Perubahan sikap masyarakat terhadap nilai-nilai yang ada sebagai akibat dari dinamika yang terjadi dalam kehidupan bangsa Indonesia.  Padahal sesungguhnya keberadaan Pancasila sangatlah dibutuhkan pada abad ini, dimana moral dan attitude masyarakat Indonesia mulai pudar bahkan telah lenyap dari hati bangsa Indonesia. Sejarah terbentuknya dasar hukum itu membutuhkan waktu yang lama bahkan mengorbankan jiwa demi terbentuknya sebuah dasar hukum yang hakiki.

Mahasiswa Cerminan Bangsa

Bapak proklamator Indonesia pernah berkata “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan ku goncangkan dunia.” Pepatah tersebut memiliki arti bahwa letak kejayaan suatu bangsa adalah berada pada generasi muda bangsa tersebut. Hal tersebut tidak akan terwujud apabila peran pemuda sebagai “kunci emas” peradaban tidak memberikan kontribusi terhadap negaranya.

Kontribusi yang dimaksud adalah sejauh mana kualitas moral dan intelektual generasi muda yang diberikan terhadap negara. Namun, akhir-akhir ini pemuda bangsa sedang mengalami keterpurukan moral. Mayoritas pemuda masa kini tidak peduli terhadap moralitas. Padahal, apa yang dilakukan mereka merupakan cerminan bagi masa depan bangsa. Pemuda adalah tulang punggung bangsa yang perlu mempersiapkan diri agar mempunyai pengetahuan, wawasan yang luas, serta sikap yang positif. Tanpa beberapa hal tersebut, maka kualitas dan kuantitas pemuda Indonesia tetap akan berada di bawah dan tertinggal dengan negara lain.

Untuk dapat menjadi pemimpin bangsa, generasi muda milenial harus bersikap kritis terhadap perubahan. Hal ini merupakan sebuah tantangan yang berat bagi pemerintah dalam mengubah pola pikir masyarakat yang masih tradisional. Oleh karena itu, para pemuda harus dibina  agar mampu meningkatkan kualitas diri sebelum berkontribusi dalam memajukan  Indonesia.

 

Oleh: Irfan Hermawan

Berita Lainnya

Press Realese Studi banding LEPPIM UPI Ke UKM Penelitian UNY

Minggu (14/11) keluarga besar UKM Penelitian UNY menyambut hangat studi…

Read More
Secured By miniOrange