• Mei 1 2021

Kondisi Buruh Masa Kini

Semua manusia di dunia, pasti ada yang berprofesi sebagai buruh. Buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Pada  umumnya buruh dikategorikan ke dalam dua jenis. Pertama, buruh yang bekerja terikat dengan instansi pabrik ataupun instansi lainnya. Kedua, yaitu buruh yang tidak terikat, bebas yang disebut juga buruh harian lepas. Buruh harian lepas adalah buruh yang bekerja tidak tetap dan menggunakan tenaganya untuk bekerja kepada orang lain dengan jenis pekerjaan cenderung tidak sama setiap harinya. Lalu, tempat bekerjanya juga tidak selalu sama. Meski demikian, keduanya tetap dapat disebut sebagai buruh. Namun, pada umumnya buruh yang sering mengalami perlakuan dari atasannya terutama gaji dan perlakuan keadilan yang mengalami ketimpangan. Hal tersebut membuat para buruh tersebut menyimpan rasa tertekan dan akan menuntut haknya.

            May day merupakan sebutan untuk hari peringatan hari buruh internasional. Hari buruh internasional ini diperingati di seluruh dunia pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya. Pada tanggal 1 Mei ini para buruh melakukan orasi di depan kantor pemerintahan. Hal ini bertujuan untuk menyuarakan keluh kesah mereka selama bekerja sebagai buruh yang belum terungkap oleh publik. Seperti agenda rutin, may day dijadikan sebagai ajang menyuarakan pendapat jika adanya masalah-masalah yang mereka alami sebagai seorang buruh di dunia industri ataupun perusahaan yang ada di setiap negara. Seperti halnya di negara lain, para buruh di Indonesia juga melakukan aksi serupa. Para buruh tersebut saling menyampaikan keluh kesah tentang beberapa macam masalah hak, masalah gaji, dan penyatuan perlakuan terhadap semua buruh.

            Berdasarkan beberapa jurnal, buruh di Indonesia sering mengalami konflik dengan perusahaan penaungnya. Salah satu contohnya, aksi mogok kerja oleh pengemudi ojek daring. Sebagai salah satu komponen buruh, para pengemudi ojek daring PT GoJek menuntut keuntungan dalam bekerja di perusahaannya sesuai pernyataan pada (Randi, 2017). Selain itu,  pengemudi ojek daring tersebut sebagai buruh menuntut adanya masalah konflik industrial. Namun di samping itu tuntutan pengemudi ojek daring banyak menyalahi peraturan yang sudah beraku. Di antaranya status kemitraan yang berjalan selama ini antara buruh pengemudi dengan PT Go-Jek telah melanyalahi Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Tuntutan buruh pengemudi kepada PT Go-Jek tersebut antara lain, adanya keinginan dari buruh pengemudi untuk meminta diangkat menjadi karyawan, karena menurut mereka hal tersebut terkait dengan pemotongan gaji yang jelas. Kemudian, mereka menuntut pengembalian ke tarif awal yaitu Rp4.000,00 yang sebelumnya diturunkan menjadi Rp3.000,00. Hal tersebut dianggap merugikan buruh pengemudi secara pendapatan ekonomi. Dengan demikian, permintaan ini telah ditolak oleh PT Go-Jek. Selain itu, tidak transparansinya perusahaan PT Go-Jek terhadap buruh pengemudi akan memunculkan tanda tanya terhadap perusahaan sendiri. Menurut buruh pengemudi, GoJek telah melanggar Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Oleh karena itu, adanya peristiwa tersebut akan terjadi demonstrasi dari buruh pengemudi di depan PT Go-Jek. Konflik buruh tidak hanya berada di perusahaan itu juga ada di beberapa perusahaan atau pabrik lainnya.  

           Jadi, dengan adanya hari buruh internasional sebaiknya bukan digunakan ajang keributan namun sebagai evaluasi diri antara perusahaan dan para buruh bersangkutan. Selain itu, peringatan tersebut digunakan untuk mengambil hikmah dan saran untuk memajukan kesejahteraan rakyat terutama yang berpenghasilan menengah ke bawah. Peringatan ini juga sebaiknya digunakan bagi masyarakat dan pejabat tingkat ekonomi menengah ke atas untuk lebih peka terhadap keadan yang sedang terjadi di sekitar kita.

Berita Lainnya

Press Realese Studi banding LEPPIM UPI Ke UKM Penelitian UNY

Minggu (14/11) keluarga besar UKM Penelitian UNY menyambut hangat studi…

Read More
Secured By miniOrange