• Agustus 30 2019

Bahasa Daerah Melaju Sampai PIMNAS

Era milenial, zaman now, atau beberapa akademis menyebutnya era revolusi industri 4.0, nyatanya sedikit banyak memberikan dampak bagi kehidupan manusia. Tidak hanya teknologi yang berkembang semakin pesat, aspek-aspek kehidupan lain juga terkena dampaknya. Sebut saja aspek-aspek pendidikan, ekonomi, sosial, bahkan budaya juga ikut berubah seiring dengan perubahan zaman. Tidak terkecuali penggunaan bahasa di kehidupan sehari-hari. Bahasa yang merupakan senjata utama bagi manusia untuk saling berkomunikasi, rupanya menjadi sebuah topik yang menarik untuk diulas, termasuk segala permasalahan yang mengiringinya.

Membawa topik mengenai bahasa daerah pada judul Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), salah satu tim PKM-PSH dari Universitas Negeri Yogyakarta berhasil lolos pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-32. Tim beranggotakan Tara Belinda (Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2018), Arif Hidayat (Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2018), dan Adesta Feby Putri Setiadi (Program Studi Ilmu Sejarah angkatan 2017) mengusung judul, “Analisis Tingkat Pemahaman Bahasa Serawai Masyarakat Bengkulu Selatan di Berbagai Tingkatan Usia”. Berawal dari kesadaran akan kurangnya frekuensi penggunaan Bahasa Serawai di daerah asalnya, Bengkulu, Arif dan kawan-kawan memutuskan untuk melakukan penelitian dengan judul tersebut. Arif menyatakan dalam wawancaranya, bahwa informasi mengenai Bahasa Serawai sangat minim dijumpai, lain halnya dengan bahasa lain seperti Bahasa Jawa.

Solusi yang ditawarkan Arif dan timnya adalah sebuah buku saku percakapan sehari-hari Bahasa Serawai. Buku ini ditujukan kepada masyarakat Bengkulu Selatan, agar pemahaman mereka akan bahasa daerahnya, Bahasa Serawai, terus bertambah. Jika Bahasa Serawai terus digaungkan bunyinya di tengah masyarakat Bengkulu Selatan, bahasa daerah tersebut akan tetap lestari dan menjadi identitas masyarakat sebagai Suku Serawai. Sebelumnya di Bengkulu Selatan belum ada buku mengenai Bahasa Serawai yang beredar. Arif dan tim berharap, buku saku yang mereka buat ini dapat menjadi gebrakan dan terobosan bagi masyarakat serta pemerintah dalam meningkatkan aset budaya daerah, yaitu Bahasa Serawai.

Tim bimbingan Bapak Benni Setiawan, M.S.I. ini akan bertolak ke Universitas Udayana Bali untuk memperebutkan medali di ajang PIMNAS ke-32, pada Senin, 26 Agustus 2019. PIMNAS merupakan salah satu ajang paling bergengsi bagi seluruh mahasiswa di Indonesia. Ribuan judul PKM yang berasal dari berbagai inovasi mahasiswa diajukan setiap tahunnya. Maka tidak mengherankan jika banyak mahasiswa saling berlomba dengan inovasi-inovasi terbaik mereka. “Awalnya kaget, tidak menyangka kalau lolos. Sampai kita tiga kali buka link (pengumuman)-nya. Pokoknya nangis, terharu, dan bangga,” jelas Arif.  Walaupun masih terbilang mahasiswa baru, tim PKM-PSH ini mampu bersaing melawan ribuan judul PKM dan mengisi satu kursi dari 400 judul yang terseleksi, meskipun pada awalnya mereka sempat merasa pesimis.

Arif yang juga merupakan anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian (UKMP) UNY mengaku, walaupun tidak ada kendala yang besar, lokasi penelitian yang ada di Bengkulu mengharuskan mereka untuk mengambil data dan mencari informasi secara langsung. Di samping itu, dirinya mengaku agak kesulitan pada pembentukan tim di awal penelitian meskipun akhirnya hal tersebut dapat teratasi dengan baik. Buktinya tim PKM-PSH ini tetap kompak dari awal sampai akhir. “Yang terpenting dalam melakukan penelitian itu adalah kreativitas yang kita munculkan. Selain penelitian yang unik, berbeda dari penelitian lain, juga harus memberikan dampak bagi masyarakat,” ucap Arif.

(Laksmi/ Tim Jurnalistik UKMP 2019)

Berita Lainnya

Testing blog

artikel ini merupakan artikl untuk ujicoba dari fitur post untuk…

Read More
Press Realese Studi banding LEPPIM UPI Ke UKM Penelitian UNY

Minggu (14/11) keluarga besar UKM Penelitian UNY menyambut hangat studi…

Read More
Secured By miniOrange