• Juni 22 2016

Senyawa Dihidropirimidinon sebagai Larvasida nyamuk Aedes Aegypti

Senyawa Dihidropirimidinon sebagai Larvasida nyamuk Aedes Aegypti

Senyawa Dihidropirimidinon sebagai Larvasida nyamuk Aedes Aegypti

Senyawa Dihidropirimidinon sebagai Larvasida nyamuk Aedes Aegypti

Demam berdarah adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya AedesAegepty atau AedesAlbopictus. AedesAegeptiadalah vektor yang paling banyak ditemukan menyebabkan penyakit ini. Nyamuk ini dapat membawa virus dengue setelah menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa inkubasi virus di dalam nyamuk selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitnya (Kemenkes RI, 2011 ). Kasus DBB di Indonesia pada tahun 2014 sejumlah 100.347 penderita, dan yang meninggal adalah 907 jiwa dari total penduduk Indonesia yaitu 252.124.458 yang meliputi 511 kabupaten/kota yang terjangkit kasus ini.( Kemenkes RI,2014).

Pemberantasan larva nyamuk Aedes Aegypti merupakan cara yang paling utama untuk memberantas penyakit DBD, hal ini karena vaksin untuk mencegah dan obat virus DBD belum tersedia. Pemakaian abate (temefos) sebagai larvasida selama tiga puluh tahun memungkinkan berkembangnya resistensi larva. Hal ini telah dilaporkan terjadi di Brazil, Bolivia, Venezuela, Kuba, French, Polynesia Karibia, Argentina dan Thailand. Hasil penelitian (Wijaya, 2009) melaporkan bahwa terjadi resistensi larva AedesAegyptiterhadap temefos 1 % di wilayah kota Banjarmasin Barat, Kalimantan Selatan.

Melihat hal tersebut, mahasiswa Program Studi Kimia yang berkolaborasi dengan mahasiswa Program Studi Biologi FMIPA UNY yang terdiri dari Handy Riantana (Kimia), AldilaPutriWidiastuti (Kimia), Nur Khotimah (Biologi) Zulfa Qurrata A’yun (Kimia) dengan pembimbing Dr. CahyoriniKusumawardani M.Si., melakukan inovasi dengan menggunakan Senyawa turunan dihidropirimidinon. Saat ini yang masih banyak ditemui adalah senyawa dihidropirimidinon yang telah diteliti dapat dimanfaatkan sebagai anti bakteri pada Escherichia Coli, hal ini dibuktikan dengan adanya zona bening yang muncul pada bakteri tersebut (Septiani, 2013). Hal ini diduga karena senyawa tersebut mampu menggumpalkan protein pada dinding sel bakteri tersebut yang merupakan rangkaian senyawa polipeptida. Mekanisme kerja tersebut diduga juga mampu diterapkan pada larva nyamuk AedesAegypti.

Handy menjelaskan untuk mendapatkan senyawa dihidropirimidinon harus melakukan sintesis dengan reaksi Siklokondensasi Bignelli, selain itu senyawa ini harus diuji titik leleh untuk  menentukan tingkat kemurnian berdasarkan titik leleh. Lalu diuji FTIR Analisis dengan spektrofotometer inframerah untuk mengetahui gugus fungsi senyawa hasil sintesis dan juga diuji Kemurnian Data dan analisa pada uji kemurnian menggunakan instrumen GC-MS. Setelah melakukan sintesis dan 3 uji tersebut didapatkan senyawa Cyclohyptyl-3,4-dihidropirimidinon, selanjutnya dilakukan uji efektivitasnya sebagai Larvasida melalui uji pendahuluan untuk menentukan ambang atas dan bawah, dan menentukan konsentrasi untuk menentukan kadar perlakuan dan setelah dilakukan penelitian terbukti hanya dengan konsentrasi 0,078 % dari konsentrasi awal larutan induk 0,1 % (78 ppm) senyawa ini mampu mematikan populasi larva hingga 50 %, hal ini didukung oleh hasil analisis SPSS pada uji probit. Dari penelitian ini diharapkan senyawa ini dapat dimanfaatkan sebagai Larvasida untuk memberantas larva nyamuk Aedes Aegypti penyebab penyakit DBD.

[Handy]

Berita Lainnya

Testing blog

artikel ini merupakan artikl untuk ujicoba dari fitur post untuk…

Read More
Press Realese Studi banding LEPPIM UPI Ke UKM Penelitian UNY

Minggu (14/11) keluarga besar UKM Penelitian UNY menyambut hangat studi…

Read More
Secured By miniOrange