• Juni 5 2021

INDONESIA UNDERCOVER

lingkungan

Setiap tanggal 5 Juni, Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati. Tentunya tidak hanya Indonesia, tetapi seluruh negara di dunia memperingatinya. Menurut UU No 32 Tahun 2009, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang semua benda, daya, keadaan, makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Namun, pernahkah suatu pertanyaan menjerat dalam pikiran, “sudahkah lingkungan di sekitar kita sehat?”

Bicara soal lingkungan hidup banyak sekali kesenjangan antara harapan dan realita. Seperti yang kita tahu, Indonesia tidak pernah terlepas dari isu lingkungan. Di Indonesia, sejumlah permasalahan lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, bahkan malah makin bertambah. Persoalan ini menjadi sangat krusial karena menyangkut kualitas kehidupan di masa yang akan datang. Hal ini sungguh memprihatinkan karena Indonesia termasuk negara yang kaya dengan keanekaragaman flora dan faunanya, tetapi malah dieksploitasi oleh ulah manusianya sendiri. Hal tersebut tentunya menjadi salah satu faktor penghambat kemajuan negara. Berdasarkan penelitian dari Verisk Maplecoft yang diunggah di akun Instagram Greenpeace.id pada 17/05/2021, Ibukota Jakarta menduduki peringkat pertama kota paling berisiko bahaya kerusakan lingkungan terbesar. Tak hanya Jakarta, dalam daftar sepuluh teratas terdapat dua kota besar lainnya seperti Surabaya di posisi keempat dan Bandung di urutan kedelapan.

Dapat kita ketahui, negara-negara maju memiliki sistem kebijakan mengenai pengolahan sampah dan limbah yang begitu sangat ditegakkan dan didukung pula dengan pola pikir rakyatnya yang sadar akan pentingnya kualitas lingkungan terutama udara bagi kelangsungan hidup. Selama tahun 2021 ini telah terjadi beberapa bencana alam dengan tiga bencana paling sering terjadi yaitu banjir, tanah longsor, dan puting beliung. Pada 2021 bencana banjir mencetak rekor kasus terbanyak di awal tahun. Salah satu contoh banjir bandang yaitu di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Penyebab banjir parah tersebut diduga salah satunya akibat penggundulan hutan. Pulau Kalimantan merupakan salah satu “pusat deforestasi” dalam kurun se-abad terakhir. Menurut penelitian hanya tersisa sekitar 37,5% hutan tropis menutupi Kalimantan dari luas aslinya. Indonesia menyumbang 54% dari total produksi minyak sawit global. Dari pertengahan 1970–1990, setidaknya setengah dari total ekspor kayu keras tropis dunia berasal dari Kalimantan. Tidak hanya itu, drainase ekstensif di hutan rawa gambut Kalimantan untuk pengembangan perkebunan meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran.

Permasalahan lain yang tidak kalah chaos adalah mendominasinya batu bara terhadap penyediaan listrik Indonesia. Berita unggahan akun resmi instagram Greenpeace.id mengabarkan bahwa pada tahun 2025–2030 sesuai arahan, pemerintah akan melakukan pemberhentian PLTU batu bara, bahkan diharapkan pada 2025 dilaksanakan replacement PLTU dan PLMTG dengan pembangkit listrik Energi Baru Terbarukan (EBT). Sekilas memang terdengar mengesankan, tetapi nyatanya tidak demikian. Indonesia akan mengeksklusi batu bara di tahun 2023 atau 2025 untuk mengatasi krisis iklim dengan tetap melanjutkan pembangunan PLTU baru sebesar 27 GW sebelum 2023 atau 2025. Menurut Tata Mustasya selaku Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, hal tersebut adalah sebuah kontradiksi, pasalnya ha itu akan menutup peluang masuknya energi bersih dan terbarukan dalam 30–40 tahun mendatang. Di sisi lain, lebih mengejutkan lagi, Pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui UU Cipta Kerja menghapus limbah batu bara atau Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dan 8 jenis limbah lain dari daftar limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). FABA diketahui mengandung banyak residu kimia, seperti arsenik, timbal, merkuri, logam berat, silikon dioksida, dan sebagainya yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Oleh sebab itu, kita sebagai penduduk bumi harus dapat menekan laju kenaikan suhu bumi di bawah 1,5oC. Beberapa dampak dari kenaikan suhu 1,5oC– 2oC yaitu: terumbu karang akan mati, serangga yang penting untuk penyerbukan kemungkinan akan kehilangan habitatnya, lautan Arktik tidak memiliki es laut pada musim panas, dan kenaikan suhu akan mempengaruhi penduduk pesisir yang rentan terhadap kenaikan permukaan laut, serta frekuensi dan intensitas badai, kekeringan, dan cuaca ekstrem akan meningkat.

Berita Lainnya

Press Realese Studi banding LEPPIM UPI Ke UKM Penelitian UNY

Minggu (14/11) keluarga besar UKM Penelitian UNY menyambut hangat studi…

Read More
Secured By miniOrange