33 Jenis Tanaman Obat Berhasil diidentifikasi di Jalur Pendakian Merapi Sapu Angin

Sebanyak 33 jenis tanaman obat berhasil diidentifikasi oleh mahasiswa pendidikan Biologi I 2014 yang dilakukan di jalur pendakian Merapi Sapu Angin.  Kegiatan identifikasi tanaman obat yang dilakukan di jalur pendakian Merapi Sapu Angin ini dilaksanakan  20/ 11/ 2018 dalam  rangka penelitian  Studi Ekskursi yang diikuti oleh 7 kelompok penelitian dengan tema yang berbeda. Tim yang terdiri dari Isvi Ria Nur Afit, Agustina Sekar Puspita, Novita Arum Sari, dan Fitri Febriani memfokuskan identifikasi tanaman obat di sepanjang jalur pendakian Merapi Sapu Angin dengan titik 0 adalah  basecamp Sapu Angin dan titik akhir adalah pos 1 Sapu Angin, yaitu sepanjang 1,7 km.

Potensi tanaman obat di jalur pendakian Gunung Merapi Sapu Angin sangat banyak dan beranekaragam. Tumbuhan yang berpotensi sebagai obat malaria antara lain Acanthospermum hispidum, Morus sp., Euphatorium sp., tumbuhan yang berpotensi sebagai antidisentri dan antidiare antara lain Ageratum sp., Canna edulis, Coriandrum, Elephantophus scaber, Pennisetum purpureum, Musa paradisiaca, Hibiscus tiliaceus, Psidium guajava, tumbuhan yang berpotensi sebagai obat batuk dan bronkitis antara lain Acanthospermum hispidum, Lantana  camara, Euphorbia hirta, Bambusa sp., Hydrocotyle sibthorpioides, Morus sp., Hibiscus sp., Rosa hybrida L., tumbuhan yang berpotensi sebagai obat penyakit kulit yaitu Chromolane sp., tumbuhan yang berpotensi sebagai antipiretik antara lain Acanthospermum hispidum, Ageratum sp., Canna edulis, Synedrella nodiflora, Artocarpus heterophyllus, Taraxacum oficinale, Schima wallichii, tumbuhan yang berpotensi sebagai analgesik antara lain Chromolaena sp., Lantana camara, Coriandrum, Mangifera indica, Impatiens sp., Hibiscus tiliaceus, Zingiber sp., Capsicum frutescens, Artocarpus heterophyllus, Imperata cylindrica, tumbuhan yang berpotensi sebagai antibiotik antara lain Acanthospermum hispidum, Bambusa sp., Hydrocotyle sibthorpioides, Pennisetum purpureum, Artocarpus heterophyllus, tumbuhan yang berpotensi sebagai antibakteri (desinfektan) antara lain Ageratum sp., Acanthospermum hispidum, Chromolaena sp., Clidemia hirta, Euphorbia hirta, Persicaria sp., Musa paradisiaca, Impatiens sp.,  Euphatorium sp., Psidium guajava, tumbuhan yang berpotensi sebagai antidiuretik antara lain Canna edulis, Phyllanthus urinaria, Bambusa sp., Hydrocotyle sibthorpioides, Imperata cylindrica, dan tumbuhan yang berpotensi sebagai antiinflamasi antara lain Clidemia hirta, Centella asiatica, Persicaria sp., Elephantophus scaber, Acacia decurrensHydrocotyle sibthorpioides, Musa paradisiaca, Zingiber sp., Rosa hybrida L., Schima wallichii, Euphatorium sp.,  Leucaena leucocephala,  Imperata cylindrica.

Dengan adanya informasi yang diperoleh dari penelitian ini, masyarakat sekitar dan khususnya pendaki yang melewati jalur pendakian Sapu  Angin dapat memiliki pengetahuan terkait keanekaragaman tumbuhan obat, habitus, dan manfaatnya. Informasi tentang tanaman obat sangat penting bagi pendaki, karena dapat membantu pendaki ketika tidak ada persediaan obat-obatan untuk pertolongan pertama.

[ Afit / Awan ]

 

ukmpenelitian uny

UKM Penelitian UNY merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa UNY yang bergerak dalam bidang penalaran.

You may also like...

1 Response

  1. wah kak sangat luar biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secured By miniOrange